Kirana Kejora-Membangun Citra Sidoarjo Melalui Film

(Foto : Barel / DP)

Saya hanyalah sepenggal sabit yang ingin jadi purnama, sehelai bulu ayam yang ingin menjadi sayap elang, setitik debu yang ingin menjadi gurun, dan setetes embun yang ingin menjadi telaga. Saya orang bebas, yang memotivasi diriku adalah diriku sendiri, aku orang indie tapi bukan berarti orang indie adalah orang yang menyendiri

Dia adalah Kirana Kejora. Namanya mulai diperhitungkan di belantara seni tulis menulis naskah di negeri ini. Apalagi setelah dirinya berkolaborasi dengan produser kawakan DedyMiswarmemper siapkan film kolosal bertema tragedi Lumpur Lapindo. Ini merupakan pekerjaan sangat besar bagi ibu dari dari Arga dan Bunga. Sebuah sisi kehidupan dari tragedi kemanusiaan yang perlu disikapi berbeda. Masyarakat perlu diajakan untuk berempati dari sudut pandang yang lain.

Peristiwa luapan Lumpur Lapindo pun menggelitik naluri seninya dan menyeruakan inspirasi bagi mata bathinya. “Saya menganggap, bencana lumpur lapindo bukan untuk diratapi. Melalui film saya akan mencoba untuk membangun citra Sidoarjo.

Saya begitu yakin, kehadiran produser ternama seperti Deddy Mizwar akan mempertajam daya tarik film ini. Utamanya dalam sisi psikologis dan kemanusiaan. Memang bukan Deddy Mizwar langsung, namun dia mempercayakan asistennya yang tidak bisa dianggap remeh untuk menggarapnya,” katanya.

Kirana dan seluruh kru sedang bekerja keras mewujudkan impian. “Tunggu Tanggalnya aja ya, nanti pasti saya kabarin,” sembari tersenyum.

Jam di tangan sudah me-nunjukan pukul 12.30. Keletihan yang tercermin dari wajahnya tak mampu dihapus dengan keramahan dan keceriaan yang coba dihadirkan. Sangat bisa dipahami. Kirana tergolong sosok pekerja keras. Apalagi penulis skrip di berbagai Film Televisi (FTV.red) ini baru saja datang dari di Ibukota.

Disela-sela obrolan yang begitu gayeng, ia menyodorkan dua buku yang telah ditulis. “Kepak Elang Merangkai Edelweis (KEME), dan Perempuan dan Daun” ini adalah karya kebanggaan dirinya.

Beringsut dari Nol

Kirana mengaku, semua keberhasilan yang coba dipertahankan atau sedang diraih saat ini, tidak datang begitu saja dari langit. Perjalanan panjang yang diwarnai suka dan duka dilalui dengan tabah.

Ia pun coba-coba mengingat pijakan awal menjalani hidup. Dengan wajah sedikit sumringah ia menceritakan saat mendirikan agensi model dan butik kecil-kecilan di Surabaya.

“Tak ada niat kala itu menulis Novel. Namun saya hanya gemar membaca tulisan milik Khalil Gibran,” ungkap penggemar musik Ballad rock ini.

Entah mengapa dan dorongan angin dari mana, tiba-tiba ada semangat ingin menulis. Me-mang tak mudah mempejuangkan sebuah karya. Berbagai kritik sampai hinaan pun kerab berdatangan dari sesama peseni sastra.

“Saya tidak mempermasalahkan, sebab siapa lagi yang akan menghargai karya kita selain kita sendiri,”.

Bermodal Nekat dan Tekat, Key —panggilan akrab wanita kelahiran Ngawi ini — melaju Ke Jakarta dengan hanya membawa buah pikirannya. Alhasil bank foto Darwis Triadi sang maestro fotopun mampu digeledahnya.

“Bermodal tulisan saya berani ke Jakarta, karena karya saya inilah seorang sebesar Darwis begitu well-come dengan aku yang bukan siapa – siapa.” Imbuhnya.

Bertahan dengan Karya

Kirana sampai kini masih ditakdirkan sebagai single parent. Bagai buah simalakama yang tak mudah dipilih. Disatu sisi, ia dituntut menjaga dan mengasuh dua buah hatinya. Pilihan tak ringan lain adalah harus mengkais rejeki demi menjaga kelangsungan hidup mereka. Keputusan memang harus diambil dan Key pun dengan berat hati menitipkan si buah hati kepada ibunya,

“Saya tidak mau anak-anak saya putus se-kolah. Meskipun saya harus sengsara, anak-anak saya harus terus sekolah dan bertahan hidup. Makanya saya titipkan ke ibu saya. Cinta saya buat anak lebih dari apapun. Mereka harus tumbuh seperti elang yang mencengkeram menembus langit, tetapi bukan elang pemangsa. Mereka harus kuat seperti edelweis, yang tegar di segala kondisi,”tegasnya sembari mencium kening Bunga, putri bungsunya.

Kirana Kejora masih memendam sejuta mimpi yang ingin dibagi kepada sesamanya,

“Saya hanyalah sepenggal sabit yang ing-in jadi purnama, sehelai bulu ayam yang ing-in menjadi sayap elang, setitik debu yang ing-in menjadi gurun, dan setetes embun yang ingin menjadi telaga. Saya orang bebas, saya ingin memotivasi diriku adalah diriku sendiri, bukan berarti orang indie adalah orang yang menyendiri,” ungkap.

Kenyataan tidak bisa berbohong, dari hasil impian-impiannya itu, delapan bulan, tiga puluh judul FTV berhasil digarap.Tiga tahun Tiga karya Novel berhasil terpajang di salah satu toko buku terbesar di Indonesia. bahkan novel keduanya yang bertajuk Selingkuh menjadi bahan pengajaran di saah satu Universitas ternama di Surabaya. (soh)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: